DeDakwah Jakarta d'Blog

Merajut Ukhuwah Mengusung Dakwah Islamiyah

Menyibak Tabir Seputar Karomah

dengan 2 komentar

Termasuk yang masih hangat menjadi bahan pembicaraan hingga saat ini adalah tentang karomah. Bermula dari zaman Wali Songo sebagai penyebar Islam di Jawa sebelum kedatangan Belanda ke nusantara. Wali Songo diyakini oleh beberapa kalangan memiliki kesaktian yang luar biasa dan tidak masuk akal. Kesaktian inilah yang disebut-sebut sebagai karomah dari Allah Ta’alaa. Namun, benarkah kesaktian Wali Songo termasuk dari karomah yang diberikan Allah?

Salah satu manhaj Ahlus sunnah wal jama’ah adalah meyakini ada-nya karomah dari Allah Ta’alaa. Karomah, bukanlah istilah yang asing di telinga kaum muslimin. Ia merupakan bagian dari agama ini. Karomah yang dimaksud adalah kejadian di luar tabiat manusia yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba tanpa disertai pengakuan (pemiliknya) sebagai seorang nabi, tidak memiliki pendahuluan tertentu berupa do’a, bacaan, ataupun dzikir khusus, yang terjadi pada seorang hamba yang shalih, baik dia mengetahui terjadinya (karomah tersebut) ataupun tidak, dalam rangka mengokohkan hamba tersebut dan agamanya. (Syarhu Ushulil I’tiqad 9/15 dan Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah 2/298  karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Dan termasuk dari prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini adanya Karomah para wali dan apa-apa yang Allah perbuat dari ke-luarbiasaan melalui tangan-tangan mereka baik yang berkaitan dengan ilmu, mukasyafat (mengetahui hal-hal yang tersembunyi), bermacam-macam keluarbiasaan (kemampuan) atau pengaruh-pengaruh”. (Syarah Aqidah Al Wasithiyah, Hal.207)

Karomah merupakan perkara yang telah tsabit (tetap) secara     nash baik Qur’an maupun     Sunnah, bahkan dalam wujud nyatanya. Karomah hanya   diberikan kepada hamba – hamba -Nya yang benar-benar beriman   serta bertaqwa kepada-Nya,         yang disebut dengan wali Allah. (Q.S. Yunus [10]: 62-63). Syaikh As Sa’di dalam tafsirnya Taisirul Karimir Rahman menjelaskan :  “Dalam ayat ini Allah mengkhabarkan tentang keadaan wali-wali-Nya dan sifat-sifat mereka, yaitu: “Orang-orang yang beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya  dan hari akhir serta beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk. Kemudian mereka merealisasikan keimanan mereka dengan melakukan ketaqwaan dengan cara melakukan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya”. Oleh karena itu tidaklah mudah untuk menyebut seseorang menjadi wali Allah apalagi memiliki karomah. Hal ini banyak terjadi di kalangan sufi. Mereka dengan mudah menjuluki seseorang (guru mereka) dengan sebutan wali Allah, lantaran memiliki hal-hal yang luar biasa.  Imbasnya, terjadilah sikap fanatik yang berlebihan, penghormatan hingga pengkultusan yang sejatinya itu adalah hak preogatif Allah semata.

Pada hakekatnya setiap mukmin yang bertaqwa adalah wali Allah Ta’alaa. Hanya saja, tingkatan mereka berbeda tergantung kepada ketaqwaaan mereka dan keimanan mereka. Siapa saja yang beriman dan ketaqwaannya sempurna, maka kedudukannya di sisi Allah Ta’alaa tinggi dan karamah-Nya lengkap. Pemimpin para wali adalah para rasul dan para nabi. Dan sesudah mereka adalah kaum Mukminin. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang berjudul Al Furqon Baina Auliya’ir Rohman wa Auliya’us Syaithan, Hal. 34 mengatakan: “Wali Allah hanyalah orang yang beriman kepada Rasulullah saw, beriman dengan apa yang dibawanya, dan mengikuti secara lahir dan batin. Barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan wali-Nya, namun tidak mengikuti beliau maka tidak termasuk wali Allah bahkan jika dia menyelisihinya maka termasuk musuh Allah dan wali setan. Allah Ta’alaa berfirman: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’.”(Q.S. Ali Imran [3]: 31)

Di masyarakat, wali adalah gelar yang memiliki prestise tinggi. Orang yang sudah mencapai derajat wali, maka segala tindakan dan ucapannya bak titah raja, harus diterima dan dilaksanakan meski tak jarang melanggar syariat. Mestinya keadaan ini tidak terjadi bila masyarakat paham bahwa tidak semua orang yang dianggap sebagai wali adalah wali Allah. Inilah kesalahan yang seharusnya kita hapus sejak dahulu.

Bentuk-bentuk Karomah
1. Karomah yang diberikan kepada Maryam. (Q.S. Ali Imran [3] : 37)
Imam ibnu katsir menyebutkan :”Ayat ini menjadi dalil akan adanya karomah bagi para wali Allah dan hal ini juga telah disebutkan dalam nash-nash sunnah yang mutawatir. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/36)
2. Ashabul Kahfi (Penghuni gua) yang ditidurkan Allah selama 390 tahun.  (Q.S. Al kahfi [18]: 25)
3. Karomah yang terjadi pada kedua orang tua seorang anak yang dibunuh oleh Nabi khidir ketika bersama dengan Nabi Musa as. (Q.S. Al kahfi [18]: 74)
4. Karomah pada suara Umar bin Khattab ra yang didengar oleh pasukannya.
Saat itu Umar bin Khaththab ra berkhutbah di atas mimbar Rasulullah saw, tiba-tiba ia berkata “Hai Sariyah, ke gunung! Hai Sariyah, ke gunung!” Umar bin Khaththab ra memberi pengarahan kepada komandan pasukan yang bernama Sariyah, dan Sariyah pun mendengar suara Umar bin Khaththab. Kemudian pasukan bergerak ke gunung. Itu adalah kemenangan mereka, dan kekalahan musuh-musuh mereka, kaum musyrikin. Ketika Sariyah pulang ke Madinah, ia bercerita kepada Umar bin Khaththab dan para sahabat, bahwa ia mendengar suara Umar bin Khaththab yang diucapkan di atas mimbar Rasulullah saw.

Pandangan Manusia tentang Karomah
Pertama, kelompok yang mengingkari adanya karomah, di antaranya yaitu: Jahmiyah, Mu’tazilah’ dan sebagian dari Asy’ariyah. Mereka berdalil dengan syubhat-syubhat yang dilandasi dengan akal mereka yang rendah. Mereka mengatakan: “Bahwa terjadinya karomah itu hanya merupakan perkara yang akan menjadikan kesamaran antara nabi dengan para wali dan antara wali dengan Dajjal.” Mereka inilah ahli tafrith, (terlalu meremehkan) wujud karomah, padahal ia ada dan sudah terjadi.
Kedua, Orang-orang yang bersikap ifrath (berlebih-lebihan) dalam menetapkan karomah yaitu dari kalangan para “Sufi” dan “Penyembah kubur”, yang menganggap segala keluarbiasaan itu sebagai karomah, tanpa memperhatikan keadaan pelakunya atau pemiliknya.
Ketiga, Orang-orang yang benar-benar mengimani dan  membenarkan adanya karomah, serta mereka tetapkan karomah tersebut sebagaimana yang terdapat dalam Al Quran dan As Sunnah.
Seorang Muslim yang benar-benar beriman akan menyatakan bahwa Allah Ta’alaa mempunyai wali-wali dari hamba-hamba-Nya. Wali-wali itu Dia pilih untuk beribadah kepada-Nya, menjadikan mereka taat kepada-Nya dan memberikan karomah-karomah-Nya kepada mereka.

Karomah atau Tipu daya Syetan
Di samping karomah ada juga tipu daya syetan yang hampir serupa dengan karomah. Tipu daya tersebut dapat berupa kesaktian, kekuatan ghaib, dan hal-hal luar biasa serta mustahil yang semuanya bersumber dari syetan. Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Apabila kalian melihat seseorang berjalan diatas air atau terbang di udara maka janganlah mempercayainya dan tertipu dengannya sampai kalian mengetahui bagaimana dia dalam mengikuti (tuntunan) Rasulullah saw.” (A’lamus Sunnah Al Manshurah, Hal. 193)
Inilah yang banyak menipu kaum muslimin, dengan anggapan bahwa itu termasuk karomah. Padahal justru tidak ada kaitannya sama sekali karena hakikatnya  itu adalah ahwal as syaithaniyah (perbuatan syetan). Hal ini seperti yang terjadi pada tokoh-tokoh sufi yang kerap bersinggungan dengan dunia mistis. Tidak menutup kemungkinan terjadi pula pada Wali Songo (meski hingga kini kisahnya masih simpang siur dan tidak jelas).  Wallahu a’laam

Muttaqin Salam
Mahasiswa STID M. Natsir

Ditulis oleh ddiijak

J September 2009 pada 10:16 am

Ditulis dalam Agustus 2009, Buletin Dakwah

Dikaitkatakan dengan ,

2 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Nice posting… :mrgreen:

    Kacahati

    J September 2009 pada 5:47 am

  2. Mhn maaf jk boleh bertanya,tiang atau soko guru di mesjid cirebon atau demak itu karomah apa kesaktian atau yg lain.mhn penjelasaan nya,yg masuk akal keimanan

    Endro

    J Januari 2010 pada 4:05 am


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.